|
Ingin Mendampingi Suami Di Luar Negeri Uneq-Uneq - Sunday, 04 October 2009
Tanya: Assalamu�alaikum wr wb
Saya baru menikah 1 tahun dan belum punya anak. Suami kerjanya di luar negeri dan pulang tiap 4 bulan. Dulu kalo saya tidak memaksa ikut, saya tidak di bawa dan sekarang dia pergi kerja keluar negeri sendiri dengan alasan ngirit biaya. Saya menginginkan kalau berumah tangga itu tinggal bersama atau saya ikut suami. Apalagi saya belum punya anak. Sekarang saya tinggal di rumah ortu. Suami berkeinginan menabung. Karena beliau tulang punggung keluarganya juga. Apa yang harus saya lakukan untuk mengubah keinginan suami ? Di dalam islam alangkah lebih baik jika tinggal bersama antara suami istri? Karena saya menikah salah satunya ingin mengurus suami. Mohon bantuannya
Wss..
Jawab:
Wa�alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Ukhti benar. Memang sebaiknya suami istri itu hidup tidak berjauhan. Terlebih mereka yang baru saja menikah seperti ukhti dan suami ukhti. Tapi, bukan berarti Islam mengharuskan sepasang suami istri itu harus terus hidup berdampingan dan tidak boleh berjauhan sama sekali. Tentu saja diperbolehkan untuk hidup berjauhan selama keduanya ikhlas menjalaninya. Itu sebabnya dalam Islam diberikan batasan waktu bahwa mereka yang hidup berjauhan, dalam kurun waktu 4 bulan haruslah saling bertemu (dan selambatnya dalam kurun waktu 6 bulan) guna saling memenuhi berbagai macam kebutuhan lahir dan batin. Kondisi-kondisi seperti ini diperuntukkan bagi para pedagang, pasukan perang, atau mereka yang sedang menuntut ilmu. Tidak terkecuali suami Ukhti yang dalam hal ini mungkin bisa dimasukkan sebagai pedagang (yang menjual jasa atau barang).
Dengan demikian menurut saya tidak mengapa kalian hidup terpisah satu sama lain, toh setiap 4 bulan sekali suami ukhti pulang ke rumah dan menengok ukhti serta memenuhi semua kebutuhan lahir dan batin.
Yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah, bagaimana menanamkan rasa ikhlas dalam diri ukhti untuk menjalani kehidupan berumah tangga seperti ini?.
Ukhti... mari coba kita pikirkan.
Sebenarnya, apa sih yang dikerjakan oleh suami ukhti di luar negeri sana? Sebagai karyawan? Sebagai buruh? Sebagai apa? Menurut saya, apapun yang suami ukhti kerjakan saat ini, didasarkan dengan pemikiran bahwa keahlian dan kemampuan yang suami ukhti miliki saat ini ternyata sudah amat banyak dan berlimpah di negara kita. Jadi, jika dibuat kelompok orang-orang yang memiliki keahlian dan kemampuan yang sama dengan suami ukhti, maka bisa dipastikan akan membentuk kelompok yang buasaaaarrrr sekali. Padahal, posisi pekerjaan yang ditawarkan untuk kelompok besar ini amat sedikit. Mungkin satu posisi lowongan kerja ternyata harus diperebutkan oleh 1000 orang pelamar kerja. Padahal, suami ukhti sendiri tidak memiliki modal lain yang bisa membantu daya saingnya agar peluangnya kian besar untuk mendapatkan posisi tersebut.
Sementara itu, di luar negeri ternyata ada lowongan untuk posisi tersebut dan kebetulan kesempatan suami ukhti untuk menduduki posisi tersebut amat besar bahkan bisa dipastikan pasti dapat. Inilah yang menjadi dasar pemikiran akhirnya suami ukhti memilih untuk bekerja di luar negeri.
Hanya saja, berbeda dengan pekerjaan menetap di dalam negeri, kelemahan bekerja di luar negeri itu ada beberapa hal. Beberapa hal yang utama adalah, mereka tidak memperoleh jaminan kesehatan secara penuh (terus terang, saya sudah beberapa kali ikut suami saya tugas ke luar negeri. Biaya berobat disana itu mahal sekali); juga mereka tidak memperoleh jaminan hari tua atau pensiun. Yang terakhir, biaya hidup disana juga amat mahal (mulai dari sewa rumah, bayar listrik, telepon, tagihan pajak, transport, dll).
Jika suami ukhti memboyong ukhti kesana untuk mendampingi dia selama dia bekerja, otomatis suami ukhti harus menyisihkan uang untuk: biaya hidup sehari-hari, harus menyewa apartemen sederhana untuk tempat tinggal (otomatis harus membayar listrik, telepon dan air juga), alokasi dana untuk menabung harus dikurangi. Silahkan hitung berapa semua itu?
Padahal, jika hanya suami saja yang berangkat dan ukhti ditinggal di Indonesia dan dititipkan di rumah orang tua ukhti (otomatis tidak ada yang berubah kan di rumah orang tua... mereka insya Allah masih bersikap sama terhadap ukhti; tidak menagih uang sewa kamar, tidak menagih uang listrik, tidak menagih uang cuci strika pakaian, tidak menagih uang makan; dengan demikian suami tidak harus mengirim uang yang cukup banyak setiap bulannya kepada ukhti. Meski demikian, bolehlah jika ukhti memberi bantuan keuangan A la kadarnya terhadap orang tua ukhti yang pasti sudahh memasuki usia pensiun agar mereka berdua juga tidak terlalu bekerja keras lagi). Nah, karena ukhti tidak bersamanya, suami ukhti tidak harus menyewa apartemen sendiri (yang tipe amat sederhana sekalipun) karena suami ukhti bisa saja numpang tinggal di rumah temannya (istilahnya room-mate, jadi hanya menyewa salah satu kamarnya saja, biayanya jauh lebih murah). Tagihan listrik, telepon dan air yang harus dia bayar setiap bulan juga jadi kecil sekali (karena dibagi dengan teman yang ditumpanginya itu). Soal makan, dia bisa makan serabutan (hehehe, hebatnya laki-laki itu, jika tidak ada istri dia bisa makan hanya satu kali sehari dengan porsi yang lumayan karena mereka biasanya lebih mementingkan menyisihkan uang untuk keluarga daripada dihabiskan untuk makanan). Dia juga lebih leluasa melakukan lembur atau mengambil kerja tambahan (karena pertimbangan tidak ada istri yang menunggu dirumah, jadi kenapa harus cepat pulang jika bisa cari kerja tambahan).
Nah, semua kelebihan uang yang dia peroleh dari hemat sana hemat sini serta kerja tambahan tersebut, bisa dia tabung sebagai kompensasi tabungan pensiun yang tidak akan dia peroleh (ingat satu hal, usia pensiun itu 55 tahun.. tapi kadang di luar negeri usia pensiun untuk tenaga kerja asing yang hanya buruh hanya 50 tahun).
Jadi, terimalah dengan ikhlas keputusan suami ukhti tersebut. Mari berpikir positif bahwa dia pun sebenarnya berat meninggalkan ukhti di Indonesia, tapi, biar bagaimana pun dia juga harus bekerja, bukan hanya harus menghidupi ukhti, anak-anak kalian, tapi juga dia harus menghidupi keluarganya sendiri dan sekaligus juga harus mempersiapkan masa tua yang lumayan cerah bagi kalian semua.
Mungkin lebih baik jika ukhti membantu suami ukhti dengan cara lain di Indonesia. Misalnya, mulailah memikirkan untuk mulai menyisihkan uang yang suami ukhti kirim untuk menabung atau berinvestasi. Seperti misalnya, investasi di tanah, atau kebun, atau deposito. Ketiganya insya Allah memiliki nilai yang bertambah terus setiap tahunnya tanpa terasa. Atau, mulai pikirkan kira-kira usaha apa yang bisa dilakukan dengan modal yang berasal dari sebagian uang yang suami ukhti kirimkan (ingat ya: jangan pernah menaruh seluruh harta kita sebagai modal usaha jika kita sendiri tidak tahu pasti apakah usaha tersebut akan berhasil atau tidak. Gunakan sebagian saja, jadi jika ternyata usaha tersebut gagal, masih ada sisa harta yang lain). Misalnya, buka warung makan, atau mini toko serba ada, atau buka kios pakaian, dll. Dengan demikian, jika suami ukhti sudah tidak terpakai lagi di luar negeri sana, dia bisa membantu ukhti menjalankan usaha yang sudah ukhti rintis sejak sekarang di dalam negeri. Dengan demikian, perputaran harta yang suami ukhti kumpulkan itu tidak habis begitu saja.
Tapi, tetap segala sesuatunya itu harus diiringi dengan doa yang ikhlas. Senantiasalah memohon kepada Allah SWT agar kalian berdua dijauhkan dari berbagai macam fitnah di dunia ini; memohonlah agar kalian berdua dijauhkan dari kejahatan atau rencana jahat orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap kalian; memohonlah agar kalian diberi kemudahan dan kesuksesan untuk berusaha, beribadah dan berbuat kebajikan. Dan jangan pernah lupa untuk mensucikan harta kalian melalui zakat dan sedekah.
Demikian semoga bermanfaat.
Wassalamu�alaikum Warahmatullai Wabarakatuh
Ade Anita
[ 0 komentar]
|
|